Film dokumenter “Pulo Aceh: Surga yang Terabaikan”, karya R.A Karamullah berhasil merebut penghargaan sebagai film favorit penonton (Best Audience Choice), pada ajang SBM Golden Lens Documentary Film Festival 2012.

Saat pengumuman pemenang yang berlangsung pada Sabtu malam, 29 September 2012 di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Jakarta, film garapan mahasiswa Aceh itu mengalahkan dua  karya lain, yaitu “Ketuk Pintu” karya Ucu Agustin, dan “Show Must Go On’ karya Pria Adi Saputra dan Diyah Verakandhi.

Film yang digarap  R.A. Karamullah bersama sejumlah rekannya  memuat kritik sosial dengan menghadirkan kehidupan warga Desa Meulingge di Pulo Aceh. Dalam film itu digambarkan, warga pulau itu hidup dalam kondisi serba terbatas: mulai dari guru yang jarang masuk kelas, kekurangan bidan desa, hingga kondisi dermaga yang dibuat oleh warga secara gotong royong. Padahal, pulau itu letaknya hanya dua jam naik boat dari Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh.

RA. Karamullah mengaku bangga film garapannya terpilih sebagai pilihan penonton. Namun begitu, ia mengaku awalnya tak menyangka bisa menyisihkan nominasi lain untuk kategori pilihan penonton.   Bahkan ketika namanya disebut di atas panggung, Karamullah  masih di Asrama Foba, tempatnya menginap selama di Jakarta. Begitu juga sang kameramen, Ahmad Ariska, bahkan sedang mengunjungi rekannya di kawasan Depok ketika namanya diumumkan.

“Betul kami menang? Tunggu, saya akan segera ke sana,” kata Karamullah via sms kepada Atjeh Post.

Film yang diproduksi selama dua tahun itu murni proyek independen. Bersama Ahmad Ariska selaku juru kamera, R.A berangkat menuju Pulo Aceh untuk mengambil gambar, pada 2010.

“Ini film betul-betul independen, tanpa donatur apapun. Proses produksinya sekitar dua tahun. Jumlah kru semuanya ada 11. Kenapa saya pilih Pulo Aceh, karena belum banyak orang yang tahu, padahal lautnya sangat indah, terutama terumbu karangnya yang masih sehat meskipun kena tsunami,” kata R.A kepada pers.

Banyak kenangan dalam proses pembuatan film ini, kata R.A, dari mulai hilang sinyal di lokasi shooting sampai ketika ia kehilangan data di komputer yang berisi nyaris seluruh dokumentasi gambar.

“Terpaksa kami shooting lagi, karena yang tertinggal hanya gambar-gambar yang jelek. Kami berjalan kaki selama empat jam menuju lokasi, lalu bertemu mercusuar William Toren. Perlu waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai ke pelabuhan,” kata Ariska kepada Atjeh Post sambil tertawa, mengenang peristiwa itu.

Mereka sempat mengikuti workshop selama seminggu di SBM Utan Kayu Jakarta, sebagai persiapan untuk penjurian. “Semuanya bagus-bagus, kami tidak yakin menang,” kata R.A. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Meskipun tidak berkenan di hati juri, “Pulo Aceh” justru paling banyak ditonton.

Tahun ini jumlah peserta menurun dari tahun lalu, namun secara kualitas jauh lebih baik, kata Direktur Festival dari SBM, Patar Simatupang.

Tentang “Pulo Aceh” ia pribadi menilai R.A perlu lebih komunikatif dalam produksi film-filmnya yang mendatang.

“Film ‘Pulo Aceh’ ini saya pribadi menilainya sangat indah, tak banyak orang tahu bahwa keindahan pulau itu luar biasa. tetapi memang filmnya sendiri kurang komunikatif. Di eropa, film dokumenter yang disukai itu yang memadukan gambar dan dialog, supaya dipahami. “Pulo Aceh” ini ibaratnya penonton tutup kuping pun bisa dinikmati tetapi ia kurang bercerita secara dialog,” kata Patar.

Sementara Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan, mengatakan, festival film dokumenter ini diniatkan untuk berlangsung setiap tahun. “Ini menjadi pekan yang sukses bagi kami karena banyak penonton yang datang, dan festival ini menjadi ajang yang penting bagi pembuat film Indonesia. Kami ingin berkontribusi untuk anak-anak muda agar semakin berkompetisi dalam festival film dokumenter.”

Atas prestasinya, R.A Karamullah dan rekan-rekan menerima hadiah uang tunai sebesar Rp2 Juta dari panitia.

 

Sumber : atjehpost.com

Oleh Wella Sherlita (Minggu, 30 September 2012 18:00 WIB)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s