Asal mula dari sistem iron dome adalah dari sistem pertahanan aktif spyder pada maret 2011, yang pertama kalinya diluncurkan di kota Beersyeba. Saat itu dugunakan untuk menahan rudal yang dikirimkan dari Gaza model BM-21 dan M-210F buatan Rusia. Spyder juga dikatakan mampu menahan pesawat tempur  yang melintas pada ketinggian 32.000 kaki   dari permukaan laut dengan kecepatan supersonik, namun itu berbeda sekali dengan kondisi dilapangan karena pada kenyataannya saat perang kedua Lebanon tahun 2006 sekitar 4.000 peluru kendali pihak Hisbullah mendarat tepat dikota israel dan rudal yang digunakan adalah jenis BM-13, BM-14, BM-21, BM-30 yang semuanya merupakan buatan Rusia.

Sistem pertahanan anti rudal Iron Dome menjadi teknologi terbaru dalam perang antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza dalam sepekan terakhir. Dengan sistem pertahanan ini, rudal dan roket yang diluncurkan para pejuang Palestina, mampu ditangkis dan dihancurkan sebelum menyentuh tanah Israel.

Pada 2010, setelah hasil uji coba menunjukkan hasil efektif, Amerika Serikat mulai ikut mendanai pengembangan sistem ini. AS akhirnya turut ambil bagian dalam pengembangan sistem pertahanan udara ini.
Iron Dome dioperasikan dengan sejumlah komponen kunci, termasuk sistem radar yang dapat mendeteksi rudal balistik dan roket. Informasi yang diperoleh radar memungkinkan alat ini bisa melacak letak roket atau rudal yang mengancam. Dengan cepat, alat ini bisa menentukan sasaran dan menganalisa ancaman. Sebuah peluncur yang berisi 20 rudal penghalau bisa bekerja secara mandiri.
Menurut kepala proyek yang mengembangkan sistem ini, Fitur kunci dari sistem Iron Dome adalah komando dan pusat kontrol, yang menyinkronkan informasi dari sistem radar. Kemudian, alat ini menentukan target mana yang akan dihalau. Alat ini bekerja dengan algoritma kompleks, dengan daya dukung dan kapasitas yang mengagumkan.
Selain bisa mendeteksi segala bentuk ancaman rudal, Iron Dome bisa mengukur lintasan peluru, kapan, dan bagaimana identifikasi ancaman akan menyerang wilayah yang dilindungi. Rencana intersepsi dibangun berdasarkan jenis ancaman.
Namun, sistem pencegah ini perlu diluncurkan pada waktu yang tepat. Supaya tepat sasaran dan bisa menghancurkan target pada tempat yang tepat pula. Program pada sistem pertahanan ini mampu mengukur dan bertindak sesuai dengan tingkat ancaman, perubahan data pada program interseptor, dan bagaimana mengenai sasaran.
Sistem Iron Dome bekerja dengan tingkat akurasi tinggi dari jarak jauh. Artinya, wilayah yang berada dalam jangkauan rudal penghalau ini akan aman dari serangan rudal dan roket musuh. Sistem Iron Dome ini mampu menghalau roket yang diluncurkan dari jarak lebih dari 70 kilometer, lebih jauh dari yang diperkirakan. Sistem ini mampu menghantam roket yang mengancam dengan jarak 15 sampai 20 kilometer dari peluncur.
Meski Iron Dome tidak memiliki tingkat intersepsi yang sempurna, pejabat Israel telah memberikan pujian atas kinerja sistem pertahanan ini. Sistem yang unik bisa membedakan antara roket Qassam dengan Fajr. Sistem ini juga bisa bekerja dengan interseptor lain. Pejabat Israel juga menilai sistem ini bisa menganalisa ancaman dengan efektif, khususnya serangan jarak dekat dan menghancurkannya dengan kecepatan tinggi.
Selama dipergunakan dalam perang di Jalur Gaza, alat ini telah menghalau ratusan roket dan rudal yang menghujani Israel. Tingkat keberhasilannya sekitar 85 persen. Hasilnya, meski roket dan rudal yang diluncurkan oleh Palestina mencapai ratusan, warga Israel yang tewas bisa dihitung dengan jari tangan saja.
Selain lolosnya sejumlah rudal dan roket Palestina, yang menjadi pertanyaan adalah berapa biaya untuk mengoperasikan Iron Dome ini. Laman csmonitor menuliskan sekali peluncuran interseptor, menguras biaya sebesar US$50 ribu (sekitar Rp481,790 juta). Sementar itu, laman abcnews.go.com, menulis untuk mengoperasikan satu rudal pencegat dan radar pendeteksi diperlukan US$40 ribu.
Perhitungan lain disampaikan ahli yang dimuat laman The National. Untuk mengoperasikan setiap bateri untuk peluncur diperkirakan menghabiskan US$21 juta (Rp202,35 miliar). Analis memperkirakan diperlukan sekitar 20 bateri untuk melindungi kota-kota di Israel. Para ahli memperkirakan biaya setiap peluncuran rudal pencegan mencapai US$100 ribu (Rp963,58 juta).
Jumlah itu terlihat sangat mahal jika bandingannya adalah roket-roket Palestina yang dihancurkan Israel. Sebab, menurut laman time, harga satu roket Palestina tak lebih dari US$1.000 (Rp9,6 juta) saja.
Hingga saat ini, Israel belum mengungkap secara pasti berapa biaya yang diperlukan untuk menjatuhkan roket dan rudal yang diluncurkan pejuang Palestina. Namun, sejumlah pakar memperkirakan Israel telah menghabiskan US$8 juta (sekitar Rp77 miliar) dalam pertempuran tiga hari.
Efisien atau tidak penggunaan sistem Iron Dome ini, yang jelas Israel telah merencanakan invasi darat untuk menghancurkan gudang-gudang rudal Hamas. Cara ini tampaknya lebih dipilih daripada melanjutkan dengan mencegat rudal-rudal Hamas dengan Iron Dome yang berbiaya tinggi itu. Israel telah menyiapkan 60.000 pasukan cadangan untuk serangan melalui jalur darat ke Gaza.

Namun ada kelemahan yang dimiliki oleh kecanggihan iron dome tersebut yaitu ketersediaan amunisi yang sedikit. Ini dibuktikan dengan banyaknya serangan roket fajr-5 yang masuk ke kota israel seperti jerussalem dan tel aviv yang dilakukan oleh para pejuang Hamas.  Dilaporkan bahwa pabrik pembuat rudal tamir kewalahan menerima pesanan dari militer israel yang sangat tinggi walaupun pabrik sudah beroprasi selama 24 jam penuh. Pabrik rafael hanya mampu memproduksi 12 rudal tamir sedangkan untuk menjatuhkan 1 roket hamas memerlukan sekitar 2 rudal, pabrikan lain juga difungsikan untuk membantu produksi rudal untuk iron dome yaitu pabrik alta namun karena kesalahan perhitungan kemampuan roket Hamas yang ternyata memiliki banyak amunisi, cadangan iron dome yang dimiliki tidak memenuhi permintaan militer.

Soal biaya, pejabat senior Israel mengatakan negaranya justru berhemat. Sebab, jika rudal dan roket Palestina itu menghantam wilayah dan warganya, harga yang hharus dibayar akan melebihi biaya operasional Iron Dome ini. “Pikirkan jika roket-roket menghantam warga, ada korban jiwa, terluka, merusak infrastruktur akan menghabiskan biaya lebih besar. Jadi US$100 ribu tidak setara dengan sebuah rumah yang penuh dengan anak-anak,” kata pejabat senior Israel yang dikutip time.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s